Make your own free website on Tripod.com

 

 

 

   

PERCERAIAN

 

Saat ini perceraian di Amerika tidak dapat dihitung lagi. Jadwal pengadilan perceraian penuh. Perceraian menggambarkan salah satu persoalan yang utama yang dihadapi dalam kehidupan rumah tangga saat ini. Walaupun hal itu bukan merupakan masalah di Negara saat ini, tetapi mungkin akan menjadi masalah di masa yang akan datang.

            Sebagian besar perceraian telah dapat dicegah jika mereka telah mencari seorang konselor yang saleh dan baik. Sekarang ini perceraian dikabulkan (granted) karena banyak alasan termasuk perselingkuhan (adultery), kekejaman, desersi (ditinggalkan suami / istri), suami / istri yang mabuk-mabukan, tidak mencukupi keperluan keluarga, kemiskinan, hukuman atas tindakan kejahatan, perpisahan karena ketidak-cocokan (incompability), dan lain-lain.

Hari ini kita akan melihat tentang pokok perceraian ini dari Alkitab untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang ada dalam pikiran kita. Pertama kita harus melihat sejenak dari awal untuk dapat mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Ini harus dicatat, bahwa saudara tidak dapat bercerai kalau belum menikah. Dalam pernikahan ini sebuah kontrak ditanda-tangani dengan pernyataan bahwa mereka akan tetap mempertahankan pernikahan mereka sampai maut memisahkan mereka. Dalam pernikahan Allah menunjukkan sebuah mujizat saat dua individu menjadi satu. Hanya Allah yang dapat memisahkan mereka dengan mengambil salah satu dari pasangan itu dalam kematian.

Sekarang, apakah pernikahan itu ? Jika sebuah pasangan dalam keadaan mabuk atau bahkan dalam pengaruh obat bius, atau sebuah senjata, apakah upacara tersebut merupakan upacara yang resmi ? Apakah pernikahan semacam ini batal atau tidak berlaku ?

Saudara-saudara, pernikahan ini dianggap resmi karena hukum mengatakan bahwa  pernikahan adalah upacara resmi. Jika surat-surat yang sesuai ditandatangani maka mereka secara resmi menjadi suami-istri, menjadi sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di mata Allah.

Menurut 1  Korintus  6:16, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikat dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia ? Sebab, demikian kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’ Hubungan sex merupakan pernikahan. Pernikahan adalah keduanya baik secara resmi maupun secara rohani, disahkan oleh Allah sendiri.

Sekarang kita tahu apakah pernikahan itu, marilah kita melihat apakah ada dasar perceraian menurut Alkitab. Ya, ada satu dan hanya satu alasan  dan itu adalah perzinahan, atau ketidaksetiaan.  Matius 19:9, mengatakan, ‘Tetapi Aku berkata kepadamu : “Barang siapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Apakah arti kata perzinahan dalam bagian ini ? Arti sebenarnya adalah hubungan sezual yang gelap dengan orang yang ketiga. Yesus juga membuat hubungan berikut antara perzinahan dan perceraian: 1. Seorang laki-lakin yang menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, menjadikan dia seorang perempuan yang berzinah dan dirinyapun melakukan perzinahan jika dia menikah dengan perempuan lain. 2. Seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang diceraikan sama dengan melakukan perzinahan; dan 3. seorang wanita yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain juga dikatakan melakukan perzinahan.

Sekarang kita tahu bahwa perceraian karena perzinahan adalah sah menurut Alkitab. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak bersalah, haruskah mereka meminta bercerai berdasarkan Matius 19:9. Perceraian tidak pernah diperintahkan, hal ini diizinkan dalam beberapa hal. Perceraian bukanlah rencana Allah bagi manusia. Matius 19:4-5, mereka diizinkan bercerai menurut Yesus dalam Matius 19:8, “Karena ketegaran hatimu, Musa menizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Dengan kata lain, perceraian tidak pernah menjadi kehendak Allah. Dia mengizinkan perceraian karena ketegaran hati (hard heartedness) kita.

Setelah seseorang telah diceraikan, dapatkah mereka menikah kembali menurut

 

Alkitab ? Kita harus ingat bahwa perceraian bukan kehendak Allah bagu manusia, Dia

 

hanya memperbolehkan, tetapi tidak memberkatinya. Mungkin anda mengatakan, ‘Saya

 

mengenal orang yang bercerai dan hidupnya jauh lebih baik. Saya juga mengenal orang

 

seperti itu, tetapi itu hanya secara jasmani saja. Kita sebagai orang Kristen akan diadili

 

menurut apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita di bumi ini dan dalam Alkitab jelas

 

bahwa menurut orang Kristen yang mau menderita akhirnya masuk sorga.

 

 

Saudara-saudara, jika seorang diceraikan berdasarkan alkitab, dia akan bebas untuk menikah lagi (Ulangan 24:2). Jika mereka diceraikan tidak berdasarkan Alkitab, dan mereka menikah lagi, maka pernikahan yang kedua akan  menjadi “hidup dalam perzinahan”. saudara-saudara, ada sebuah noda (stigma) terhadap perceraian sebab ini menggambarkan peristiwa yang menyedihkan yang telah meruntuhkan (undermine) rumah tangga, dasar kemasyarakatan dan karena kesengsaraan (misery) yang mengikutinya, rumah-tangga yang hancur, sakit hati dan patah hati, anak-anak tunawisma (homeless), para pemuda yang jahat, kesepian, samudra air mata dan bahkan bunuh diri dan gila. Percerasian adalah suatu tragedi, sesuatu yang menyedihkan.

 

 

Mengapa kita harus menghindari perceraian ?

            Pertanyaan ini nampaknya banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Orang yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya nampaknya tidak dapat mengerti bahwa mereka harus tetap hidup bersama, khususnya jika mereka adalah orang Kristen. Alasan yang paling utama yang ada dalam pikiran saya adalah Firman Allah. Perceraian bertentangan dengan Kehendak Allah. Kita telah belajar bahwa perceraian bukan kehendak Allah untuk manusia.

            Selain karena alasan Alkitab, juga karena masalah-masalah social dan alasan moral; 1. orang tua perlu menyadari kesejahteraan anak-anak yang akan paling menderita  karena perceraian. Allah memberikan anak-anak itu untuk mengajar orang tua membesarkan mereka. Mereka mempunyai hak untuk memiliki keduanya baik ayah maupun ibu. 2. Pasangan harus menyadari bahwa perceraian menimbulkan skandal.         3. Beberapa gereja menolak hak gereja untuk menceraikan orang. Saya tidak mengatakan bahwa mereka benar, akan tetapi ada. 4. Banyak orang Kristen melihat bahwa perceraian adalah dosa, tanpa memperhatikan lingkungan atau situasi. 5. Kesulitan ekonomi sering menyebabkan perceraian. Kami mempunyai kata-kata orang tua di Amerika yang kadang-kadang membuat kami berpikir tentang perkawinan, “Dua orang dapat hidup sama murahnya dengan satu orang”. Saudara-saudara, hal itu tidak semuanya benar untuk semua pola hidup, tetapi benar untuk banyak hal. 6. Perceraian adalah sebuah hak umum yang sama sekali gagal. Dan 7. Perceraian adalah kehancuran dari kasih dan kebahagiaan dalam pernikahan. Saudara-saudara, Perceraian atau perpisahkan yang sah disebabkan oleh beberapa kepentingan diri sendiri dari seseorang.

Dapatkah orang yang bercerai masuk sorga ?

            Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus menjernihkannya (clarify) terlebih dahulu. Ya, Jika orangtersebut mempunyai dasar Alkitab dalam perceraian, kita sudah mengetahui sebelumnya bahwa Allah mengizinkan perceraian itu atas dasar perzinahan, yang diterjemahkan dalam beberapa penerjemahan sebagai “ketidaksetiaan”. Yang arti dasarnya adalah hubungan sex gelap dengan orang yang  ketiga.

            Dr. Rice dan Dr. Oir ? menasehatkan (suggest) bahwa hubungan ini artinya hanya jika orang  yang lain telah menjadi seorang yang sudah biasa berhubungan sex di luar nikah, biasanya, orang yang tidak bersalah akan memaafkan orang yag bersalah, terhadap pengakuan dan bersatu kembali. Tetapi, untuk masalah yang terus menerus, Tuhan mengizinkan sebuah perceraian. Bagaimanapun juga anak Allah tetap berada dalam kehendak-Nya.

            Persoalannya untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak sungguh-sungguh mengenal orang tersebut. Perceraian tidak dapat membuat seseorang ke luar dari sorga, tetapi hak tersebut berhubungan dengan kehendak Allah. Kita sebagai manusia sering menggunakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang lain untuk memutuskan apakah mereka selamat. Kita sebagai manusia tidak seharusnya melakukan hal itu, kita hanya dapat melihat bagian luar seseorang. Allah adalah satu-satunya yang dapat melihat hati manusia. Dia satu-satunya yang dapat membuat keputusan siapa yang akan masuk sorga.

            Perceraian tidak berbeda dari dosa-dosa yang lainnya, dan kita sebagai manusia perlu untuk dibersihkan dari dosa-dosa kita, dan dengan perceraian bukan merupakan jalan agar hidup kita dibersihkan. Jika sebuah pasangan benar-benar diselamatkan dan berusaha menyenangkan Allah, mereka tidak akan pernah memikirkan perceraian.

 

 

Apa yang harus dilakukan orang yang sudah menikah ? /Siapa yang bermaksud bercerai ?

Walaupun kita tidak mempunyai masalah tersebut di sini, kita mempunyai sesuatu yang menyebabkan perpisahan. Dalam surat mereka masih hidup dalam pernikahan, tetapi kenyataanya mereka bercerai, tidak pernah hidup dalam rumah tangga yang membawa kehormatan dan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus.

Keduanya sumi dan istri yang ingin bercerai atai berpisah secara sah seharusnya memperbarui janji mereka untuk lebih baik atau lebih buruk, sampai mati memisahkan kita. Langkah selanjutnya seharusnya untuk masing-masing orang memperoleh hak bersama dengan Tuhan dan kemudian yang lainnya; pengakuan dan pertobatan dengan saling kebersamaan akan membuat beberapa pernikahan berhasil. Lebih banyak berdoa bersama tentu akan sangat membantu untuk mendapatkan kembali perkawinan itu seperti semula. Juga harus meluangkan waktu untuk berdoa sendiri, melalui doa pribadi, Allah dapat bekerja dalam hati kita untuk membuat kita menjadi seperti Yesus.

Pencegahan yang paling penting terhadap perceraian, pastikan bahwa keduanya adalah orang Kristen, dengan iman yang sama akan mendapatkan beberapa kepentingan bersama.

Kadang-kadang anak-anak kecil sering menjadi cara pemecahan masalah material, mencegah anak-anak menuju ketidak-puasan, frustasi dan pertengakaran. Istri membiarkan suami menjadi suami yang sebebarnya, kepala rumah-tangga (bukan hanya sebagai figure kepala rumah-tangga saja). Istri menjadi subyektif kepada suaminya,  untuk memperbaiki sebuah rumah-tangga yang hancur memerlukan waktu yang lama.

Suami dan istri terus saling merayu (woo), masing-masing memerlukan banyak kasih sayang. Dan yang terakhir jika saudara ingin memperbaiki perkawinan teruslah meminta kepada Allah untuk memberi cinta yang suci kepada saudara berdua.